Minggu, 25 Mei 2014
Diposting oleh
Unknown
di
03.23
0
komentar
Minggu, 23 Maret 2014
Ahaaaa!~
Aku disekolahkan orangtuaku di :
Diposting oleh
Unknown
di
16.09
0
komentar
Senin, 17 Maret 2014
Efek Super Buruk dari Ponsel Bagi Tubuh
(c) ShutterStock
Diposting oleh
Unknown
di
07.47
0
komentar
Rabu, 12 Maret 2014
Artikel Kesehatan " PERMASALAHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA"
Banyak berita seputar perilaku seks bebas di kalangan
remaja mewarnai media massa di Lampung pada tahun ini. Terbaru beberapa
waktu yang lalu masyarakat Lampung dikejutkan dengan berita pembunuhan
sadis akibat tindakan aborsi seorang mahasiswi oleh seorang dukun bayi.
Sebelumnya juga sempat heboh beredarnya video adegan âpanasâ dua remaja
di sebuah kamar kos di Kota Bandar Lampung. Belum lagi berita video
mesum sepasang PNS dari Pemda setempat. Terlepas dari penyelesaian
secara hukum, dari fenomena tersebut bukanlah saat yang tepat untuk
mencari siapa yang bersalah, tetapi bagaimana caranya antara pemerintah
dan masyarakat dapat bekerjasama mencari alternatif solusi mengatasi
akar permasalahan secara bersama.
Setumpuk permasalahan
perilaku seks bebas remaja sebenarnya sudah bukan lagi rahasia umum dan
ini hanyalah pucuk dari gunung es yang tampak dan sempat terekspos oleh
media. Entah berapa lagi kasus pergaulan bebas remaja yang tidak muncul
kepermukaan. Padahal cukup banyak sudah topik ceramah atau seminar
tentang permasalahan remaja yang berulang kali diangkat dari berbagai
sudut pandang agama, kesehatan, dan sosial baik oleh pemerintah maupun
LSM. Tetapi hasilnya belum juga dapat menurunkan tingkat resiko yang
timbul. Bahkan seolah bersaing dengan perkembangan teknologi informasi.
Sebagai kelompok terbesar dalam struktur penduduk Indonesia dimana dari
200 juta penduduk ada hampir lebih dari 30% adalah remaja dengan
kedudukannya yang unik dalam masyarakat karena digolongkan pada usia
peralihan (pubertas) dari masa anak-anak ke masa dewasa. Di Bandar
Lampung sebanyak 32 % dari 844.608 jiwa penduduk adalah usia remaja (10 â
24 tahun; UNFPA).
Hasil Survey BKKBN bekerjasama dengan
LD-FEUI pada tahun 1999 terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri
usia 15 - 24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Lampung) terpapar data sebanyak 46,2% remaja
beranggapan bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali
melakukan hubungan seks.
Sebuah survei yang juga pernah
dilakukan di 4 kota (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Lampung) pada 450
responden yang berusia antara 15 â 24 tahun diketahui sebanyak 37 %
responden laki-laki mengaku merencanakan untuk berhubungan intim saat
pacaran dan sebanyak 39% responden perempuan mengaku selalu dibujuk
untuk berhubungan intim saat pacaran. Sedangkan tempat favorit dan aman
menurut responden untuk melakukan aktivitas seksual adalah di rumah,
tempat kost, dan hotel. (Kompas, 28 Januari 2005)
Buta atau Tabu?
Kekurang tahuan orang tua terhadap pengetahuan yang jelas dan benar
serta memadai tentang aspek-aspek perkembangan putra-putrinya menjadi
permasalahan bagi remaja untuk memperoleh penjelasan yang tepat. Pada
kenyataannya, orang tua masih merasa risih atau segan bahkan tidak
mengerti cara yang tepat untuk berdiskusi tentang perkembangan biologis,
psikologis serta permasalahan kesehatan reproduksi dengan
putra-putrinya.
Pembicaraan tentang kesehatan reproduksi masih
dianggap sebagai suatu hal yang tabu, apalagi dibicarakan dengan remaja.
Orang tua merasa khawatir akan memicu putra-putrinya untuk melakukan
hal-hal yang dianggap tabu tersebut. Padahal, keinginan untuk tahu dan
mencoba sesuatu yang baru itu akan selalu ada pada karakter remaja. Pada
saat itulah fungsi orang tua membimbing putra-putrinya agar tidak salah
arah. Tentunya dengan cara memberikan penjelasan yang benar dan jelas
kepada mereka.
Anak-anak terlebih lagi anak perempuan perlu
diperkenalkan sejak dini tentang fungsi dan cara merawat organ
reproduksinya. Mulai dari menjaga kebersihan organ, misalnya cebok
sehabis âpipisâ untuk menghindari jangan sampai terserang penyakit. Itu
adalah bentuk kecil peran orangtua dalam mengajarkan kesehatan
reproduksi kepada anaknya.
Ketika anak beranjak remaja, sudah
saatnya para orangtua mulai terbuka berbicara tentang permasalahan yang
sensitif ini. Diskusikan dengan anak resiko-resiko yang akan muncul
apabila tidak bisa menjaga organ reproduksinya. Berikan kepercayaan dan
tanggung jawab kepada anak untuk dapat menilai sendiri atas apa yang
dilakukan. Dan luangkan waktu untuk anak bertanya.
Memang
kompleks sekali permasalahan ini, orang tua mengalami hambatan dalam
menjelaskan permasalahan kespro karena menganggap tabu. Sang Anak juga
kurang dapat menghargai pengetahuan yang disampaikan oleh orang tuanya,
berbeda kalau yang menyampaikan itu guru, dokter atau ulama-ulama.
Anggapan tabu ini mengakibatkan kepercayaan diri orang tua kecil dalam
memberikan penjelasan. Akibatnya juga, proses untuk memberikan
kepercayaan diri dan bekal pengetahuan bagi putra-putrinya pun
membutuhkan waktu yang lama. Pada akhirnya, semuanya dianggap sudah
terlambat.
Remaja akan lebih mudah memahami dan mengerti
tentang perubahan yang terjadi dalam dirinya itu bila penjelasan dan
pengarahan tersebut diberikan dalam suasana yang dipenuhi keterbukaan
dan keharmonisan. Hal tersebut tidak hanya harus diberikan oleh teman
sebaya, guru, dokter atau ulama; orang tua juga memiliki peran yang
sangat besar karena waktu luang yang paling banyak bagi remaja ada dalam
keluarga.
Peer Educator
Proses peralihan pada remaja yang
terjadi bukan saja fisik dan mental, tetapi juga terjadi perubahan
secara berangsur-angsur pada sistim reproduksinya yang menjadi matang
dan berfungsi seperti halnya orang dewasa. Setiap perubahan bagaimana
pun akan menyebabkan timbulnya goncangan bagi individu remaja yang
mengalami.
Pendidikan kesehatan reproduksi (kalau tidak mau disebut
Sex Education) sangat penting untuk diketahui sejak dini agar pada saat
seseorang menginjak usia remaja telah mendapatkan informasi yang cukup
sehingga mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-hal yang
seharusnya dihindari ketika menghadapi permasalahan seputar organ
reproduksinya.
Pada umumnya remaja itu dalam masa transisi
merasa enggan untuk mencari penjelasan pada orang tua tentang
permasalahan yang terjadi pada dirinya yang secara nyata sedang
dihadapinya. Alhasil, teman sebaya sebagai gantinya. Sebagaimana hasil
survey yang dilakukan di 4 kota (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Lampung)
terhadap 450 responden yang berusia antara 15 â 24 tahun terpapar data
sebanyak 65% responden mendapat informasi tentang seks dari teman dan
35% selebihnya menyatakan mendapat informasi dari hasil nonton film.
(Kompas, 28 Januari 2005).
Pertemanan bagi remaja adalah hal
yang sangat dihargai, jalinan komunikasi cenderung lebih terbuka dan
baik daripada dengan orang tua. Memang, dengan temen (apalagi sahabat)
cenderung dapat menyimpan rahasia. Setiap masalah rasanya dapat
dipecahkan bersama-sama, terutama masalah dengan orangtua atau keluarga.
Di waktu-waktu istirahat sekolah, nongkrong atau belajar bersama,
mereka bakal mencari tahu dari temen-temen dekatnya tentang masalah
kesehatan reproduksi khususnya. Sayangnya, karena sama-sama belum tahu
secara benar, akibatnya informasi yang diterima banyak disalah artikan,
malah dengan sengaja diselewengkan.
Oleh karena itu keberadaan
peer Educator sangat diperlukan oleh remaja untuk mendapat informasi
yang benar untuk dapat menjawab pertanyaan temen-temen sendiri tentang
kesehatan reproduksi. Bila penjelasan diperoleh dengan benar dan tepat,
pastinya hal tersebut bisa membantu perkembangan remaja di masa
mendatang.
Disitulah fungsi pendidikan dan informasi kesehatan
reproduksi diperlukan. Informasi itu diberikan biar remaja tidak salah
tafsir dan tahu dampak-dampak dari perilaku seksual. Apabila dapat
informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi paling tidak mulai
pikir-pikir terhadap perilakunya yang ujung-ujungnya biar remaja lebih
bertanggung jawab, menghargai dan memelihara tubuhnya tetap sehat.
Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Skala-PKBI Lampung, sebuah
LSM yang sejak tahun 1995 mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap
permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja telah melakukan berbagai upaya
mulai dari ceramah, diskusi, dan seminar atau talk-show di radio bahkan
membuka hotline untuk konsultasi tentang berbagai permasalahan remaja.
Dan dalam empat tahun terakhir ini dengan didukung World Population Fund
telah mengembangkan dan melakukan uji coba modul pendidikan kesehatan
reproduksi khusus berbasis teknologi komputer yang diberi nama Modul
Daku! (Dunia Remajaku Seru).
Bila sejak awal orangtua mampu
mengajarkan anak tentang resiko yang akan ditanggung akibat tidak
menjaga organ reproduksinya, insya Allah anak-anak akan terhindar dari
perilaku seks bebas dan menghargainya sebagai sesuatu yang sakral .
Dan yang paling penting adalah memberikan penghargaan sebagai pribadi
yang utuh, yang mampu bertanggung jawab atas diri sendiri. Jangan sampai
keyakinan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi itu tabu mengakibatkan
remaja buta akan informasi yang benar dan jelas yang menyangkut masa
depannya.
di post : 5 Desember 2009
oleh : Deidy Tjahayadi
kategori : BKKBN
http://lampung.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=13&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897
Diposting oleh
Unknown
di
21.00
0
komentar
